image-accent

Daily Views

content accent Download PDF

Bursa Hari Ini

Thursday , 25 Jun 2026 07:50

Global Update

Pasar saham AS ditutup bervariasi pada perdagangan 24 Juni 2026 seiring investor melakukan rotasi dari saham teknologi yang sebelumnya mencatat reli signifikan. Nasdaq Composite terkoreksi 0,43% ke 25.476,64 dan S&P 500 turun tipis 0,10% ke 7.358,22, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 0,35% ke 51.848,90 berkat penguatan sektor non-teknologi. Tekanan utama berasal dari sektor semikonduktor menjelang rilis laporan keuangan Micron Technology. Saham Micron ditutup turun 0,3%, sementara saham Sandisk melemah 2,5%. Pelaku pasar melakukan aksi ambil untung setelah reli kuat sektor chip sepanjang tahun ini, yang telah mendorong valuasi ke level tinggi dan meningkatkan ekspektasi terhadap pertumbuhan laba perusahaan. Koreksi tersebut dipandang sebagai normalisasi valuasi dan penyesuaian ekspektasi menjelang musim laporan keuangan kuartal kedua. Di pasar komoditas, harga minyak mentah melanjutkan penurunan tajam. Brent turun 4,33% ke US$73,74 per barel dan WTI melemah 3,92% ke US$70,34 per barel. Penurunan harga energi mencerminkan meredanya premi risiko geopolitik di Timur Tengah sekaligus menurunkan kekhawatiran inflasi global dalam jangka pendek. Melemahnya harga minyak turut mendorong penurunan yield US Treasury tenor 10 tahun yang kembali bergerak di bawah level 4,5%. Kondisi ini mengindikasikan meningkatnya permintaan terhadap aset pendapatan tetap serta berkurangnya tekanan inflasi dari sisi energi. Penurunan yield berpotensi menjadi faktor pendukung bagi aset berisiko apabila tren tersebut berlanjut dalam beberapa pekan ke depan. Pasar global saat ini berada dalam fase konsolidasi setelah reli kuat pada semester pertama 2026. Fokus investor akan tertuju pada laporan keuangan sektor teknologi, khususnya semikonduktor dan artificial intelligence (AI), yang akan menjadi penentu arah pasar berikutnya.

 

Market Movement

Pasar keuangan Indonesia bergerak mixed pada perdagangan 24 Juni 2026. IHSG terkoreksi tajam 3,56% ke level 5.883,88 akibat tekanan jual yang meluas pasca hasil MSCI 2026 Market Classification Review. Meskipun Indonesia tetap mempertahankan status Emerging Market, MSCI menyoroti sejumlah isu struktural, termasuk transparansi kepemilikan saham, kualitas free float, dan indikasi perdagangan terkoordinasi. Sentimen tersebut memicu aksi jual asing sebesar Rp1,17 triliun dan menekan mayoritas saham berkapitalisasi besar. Tekanan di pasar saham terjadi secara luas dengan 611 saham ditutup melemah dan seluruh sektor berada di zona merah. Sektor barang baku, energi, dan kesehatan menjadi kontributor penurunan terbesar. Saham-saham blue chip perbankan seperti BBRI, BBCA, dan BMRI, bersama sejumlah saham konglomerasi dan komoditas, menjadi pemberat utama indeks. Di pasar valuta asing, rupiah melemah 0,50% ke Rp17.925/US$, memperpanjang tren depresiasi menjadi empat hari berturut-turut. Pelemahan rupiah didorong penguatan dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu tahun, seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap sikap hawkish Federal Reserve di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Volatilitas diperkirakan masih tinggi mengingat kombinasi tekanan eksternal dari kebijakan moneter AS dan sentimen domestik terkait kualitas pasar modal Indonesia.

 CORPORATE

 

EMAS Tetapkan Harga Maksimum HDR

Perseroan mengklarifikasi bahwa harga maksimum penawaran Hong Kong Depositary Receipts (HDR) ditetapkan sebesar HK$26,6/HDR, setara sekitar Rp6.118 per saham. Harga tersebut mencerminkan diskon sekitar 10% dibanding harga saham EMAS di BEI per 24 Juni 2026, namun masih 112% lebih tinggi dibanding harga IPO pada September 2025 sebesar Rp2.880 per saham. Dalam aksi korporasi ini, EMAS menawarkan 89,7 juta HDR, dengan setiap 1 HDR mewakili 10 saham

 

CTRA Waspadai Dampak BI Rate

CTRA (Ciputra Development): Manajemen membuka peluang untuk merevisi target marketing sales 2026 setelah BI Rate naik 100 bps dalam satu bulan terakhir. Perseroan menilai kenaikan suku bunga berpotensi menekan permintaan properti karena sekitar 80% pembeli merupakan end-user dan sekitar 70% transaksi masih menggunakan fasilitas KPR, sehingga penjualan cukup sensitif terhadap kenaikan biaya pembiayaan.

 

IPCM Bagikan Dividen Final

IPCM (Jasa Armada Indonesia): Perseroan akan membagikan dividen final tahun buku 2025 sebesar Rp19,35 per saham, yang mengindikasikan dividend yield sekitar 6,0% berdasarkan harga penutupan 24 Juni 2026. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 1 Juli 2026, sedangkan pembayaran dividen dijadwalkan pada 24 Juli 2026. Sebelumnya, IPCM telah membagikan dividen interim Rp4,4 per saham pada Januari 2026, sehingga total dividend payout ratio untuk tahun buku 2025 mencapai 64%, turun dari 75% pada tahun buku 2024.

 

SMDR Bagi Dividen Final Rp155,6 Miliar Senilai Rp9,5 per Saham

PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR) menyetujui pembagian dividen final Rp155,6 miliar atau setara Rp9,5 per saham untuk tahun buku 2025. Keputusan itu ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta, Rabu (24/6). Dengan harga penutupan saham SMDR Rabu (24/6) di level Rp288 per saham, yield dividen final ini setara 3,30%. Pembagian dividen final ditopang kinerja keuangan SMDR sepanjang 2025. Perseroan membukukan laba bersih USD52,1 juta, naik 3% dibanding tahun sebelumnya. Pendapatan tercatat tumbuh 9% menjadi USD801,7 juta, sementara laba usaha turun 3% menjadi USD93,7 juta.

 

KOTA Garap Rest Area Rp300M di JORR 2, Perkuat Mesin Recurring Income

PT DMS Propertindo Tbk (KOTA) kembali menunjukkan langkah ekspansif yang berpotensi memperkuat fundamental bisnis jangka panjang. Melalui anak usahanya, PT DMS Laguna (DMSL), Perseroan resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) untuk membentuk Joint Venture Company (JVC) yang akan mengembangkan dan mengelola Rest Area KM 63 di ruas Tol Cimanggis-Cibitung. Kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam strategi transformasi KOTA dari pengembang properti konvensional menjadi pemilik dan pengelola aset komersial yang mampu menghasilkan pendapatan berulang (recurring income) dalam jangka panjang.

 

Untuk mengetahui daftar saham dengan Notasi Khusus dapat dilihat melalui link berikut:

https://www.idx.co.id/id/perusahaan-tercatat/notasi-khusus/

 

Adapun daftar saham yang masuk dalam Papan Akselerasi dan Papan Pemantauan Khusus dapat dilihat melalui link berikut:

https://www.idx.co.id/id/data-pasar/data-saham/daftar-saham/

 

Sumber: Emitennews, Investor Daily, Kontan, Detik Finance,  Bisnis Indonesia. 

PT. Lotus Andalan Sekuritas secara default mengirim Daily View, Hot Topics & Opinion dan Market Rumor melalui email kepada seluruh Nasabah. Apabila Bapak/Ibu ingin menerima email ini kembali, klik Subscribe