image-accent

Daily Views

content accent Download PDF

Bursa Hari Ini

Monday , 11 May 2026 07:28

Global Update

Dari pasar global, bursa saham AS kembali menunjukkan penguatan solid dengan indeks utama Wall Street mencetak rekor tertinggi baru pada akhir pekan lalu. Indeks S&P 500 naik 0,84%, Nasdaq melonjak 1,71%, sementara Dow Jones menguat tipis 0,02%. Sepanjang tahun berjalan, Nasdaq telah menguat sekitar 13% dan S&P 500 naik 8%, menandakan sentimen risk-on investor global masih terjaga. Penguatan pasar terutama didorong oleh kinerja emiten teknologi besar seperti NVIDIA Corporation, serta lonjakan saham perusahaan memori seperti Micron Technology dan SanDisk Corporation. Optimisme terhadap tema AI semakin kuat setelah indeks semikonduktor SOX mencatat kenaikan sekitar 55% sepanjang kuartal II. Selain itu, musim laporan keuangan kuartal I juga menjadi katalis positif, dengan sekitar 83% emiten S&P 500 berhasil melampaui estimasi laba pasar, jauh di atas rata-rata historis. Dari sisi makroekonomi, tingkat pengangguran yang stabil di 4,3% memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve System kemungkinan masih akan mempertahankan suku bunga di level tinggi lebih lama. Ekspektasi pasar saat ini mengarah pada suku bunga acuan tetap berada di kisaran 3,50%ý3,75% hingga akhir tahun. Di sisi lain, pertemuan tingkat tinggi antara Xi Jinping dan Donald Trump di Beijing pada 14ý15 Mei menjadi agenda global yang paling dinantikan pasar. Pertemuan ini akan membahas isu perdagangan, rantai pasok semikonduktor, rare earth, AI, hingga stabilitas geopolitik kawasan.

 

Market Movement

IHSG ditutup turun 2,86% ke level 6.969 pada perdagangan Jumat, dipicu aksi jual besar pada saham berbasis komoditas dan konglomerasi, meski secara mingguan masih mencatat kenaikan tipis 0,18%. Tekanan terbesar berasal dari kekhawatiran pasar terhadap rencana pemerintah menerapkan windfall profit tax dan bea keluar pada sektor batu bara serta nikel, yang memicu koreksi dalam pada saham-saham tambang seperti MDKA, TINS, INCO, dan EMAS. Di sisi lain, saham BREN dan DSSA menjadi pemberat utama indeks setelah mengalami penurunan signifikan. Dari pasar valuta asing, rupiah kembali melemah ke Rp17.360/US$ dan mencatat depresiasi mingguan 0,32%, berlawanan arah dengan mayoritas mata uang Asia yang justru menguat terhadap dolar AS. Dengan hanya tiga hari perdagangan aktif, perhatian investor akan tertuju pada sejumlah agenda global dan domestik berdampak tinggi, mulai dari pergantian kepemimpinan Federal Reserve System, perkembangan geopolitik Timur Tengah, hingga rebalancing indeks MSCI yang berpotensi memicu pergerakan signifikan pada IHSG. Agenda paling krusial bagi pasar saham domestik pekan ini adalah rebalancing indeks MSCI pada 12 Mei 2026. MSCI menerapkan kebijakan khusus terhadap saham Indonesia menyusul reformasi transparansi pasar modal yang dilakukan otoritas domestik. Langkah pembekuan kenaikan free float, penghentian penambahan konstituen baru, serta potensi penghapusan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) berpotensi memicu tekanan pada sejumlah saham tertentu, khususnya emiten dengan likuiditas rendah dan kepemilikan publik terbatas. Kebijakan ini juga dapat meningkatkan volatilitas arus dana asing dalam jangka pendek.

CORPORATE

 

MAPI Diakuisisi Investor Singapura, Pacific Universal Siapkan Tender Offer Rp1.550/Saham

PT Mitra Adiperkasa Tbk mengumumkan bahwa Pacific Universal Investments Pte. Ltd. telah menyelesaikan akuisisi 51% saham perseroan dari PT Satya Mulia Gema Gemilang dengan nilai transaksi sekitar Rp11,8 triliun atau setara harga rata-rata Rp1.395 per saham. Akuisisi ini dilakukan sebagai bagian dari strategi ekspansi dan pengembangan bisnis grup MAPI di Indonesia maupun kawasan Asia Tenggara. Pasca transaksi, Pacific Universal Investments bersama CVC Capital Partners akan menunjuk Samudra (Investment) Pte. Ltd. dan Ocean Continuum Pte. Ltd. untuk menjalankan tender offer wajib dengan harga Rp1.550 per saham, mencerminkan premi sekitar 22% dibanding rata-rata harga tertinggi saham MAPI dalam 90 hari hingga 7 Mei 2026.

 

SIDO Pangkas Guidance 2026, Tertekan Normalisasi Inventori dan Pelemahan Rupiah

Dalam earnings call 1Q26 pada 8 Mei 2026, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk merevisi turun proyeksi pertumbuhan pendapatan dan laba bersih tahun 2026 menjadi cenderung flat secara tahunan, dari sebelumnya ditargetkan tumbuh sekitar 5ý8% YoY. Penyesuaian guidance ini dipicu proses normalisasi inventori yang telah berlangsung sejak awal tahun dan menyebabkan tekanan signifikan terhadap penjualan sell-in pada kuartal pertama. Selain itu, perseroan juga menghadapi tekanan eksternal berupa pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan harga minyak yang berdampak pada meningkatnya biaya kemasan.

 

ENRG Pastikan Pengendali Jadi Pembeli Siaga Rights Issue

PT Energi Mega Persada Tbk menyampaikan dalam klarifikasi kepada Bursa Efek Indonesia bahwa pihak pengendali beserta afiliasinya akan bertindak sebagai pembeli siaga dalam aksi korporasi rights issue perseroan. Detail lebih lanjut terkait komitmen tersebut akan dicantumkan dalam prospektus saat perseroan mengajukan pernyataan pendaftaran kepada Otoritas Jasa Keuangan. Sebelumnya, ENRG mengumumkan rencana penerbitan hingga 13,5 miliar saham baru yang berpotensi menimbulkan dilusi maksimum sebesar 33,88%. Perseroan masih belum mengungkapkan harga pelaksanaan maupun rasio rights issue, sementara dana hasil aksi korporasi akan dialokasikan untuk belanja modal dan kebutuhan modal kerja.

 

TPIA Kebut Proyek CA-EDC, Targetkan Substitusi Impor dan Potensi Devisa Rp10 T

PT Chandra Asri Pacific Tbk melalui anak usahanya, PT Chandra Asri Alkali, mengungkapkan bahwa progres pembangunan pabrik chlor alkali dan ethylene dichloride (CA-EDC) telah mencapai 66% dan selanjutnya akan memasuki tahap pengembangan infrastruktur logistik, termasuk pembangunan jetty serta fasilitas tangki penyimpanan. Pada fase awal operasional, fasilitas tersebut ditargetkan mampu memproduksi sekitar 827 ribu ton soda kaustik dan 500 ribu ton EDC per tahun. Dalam jangka panjang, perseroan memperkirakan kapasitas produksi soda kaustik dapat menggantikan impor hingga 827 ribu ton per tahun dengan nilai sekitar US$293 juta atau Rp4,9 triliun. Sementara itu, produksi EDC akan difokuskan untuk pasar ekspor dengan potensi tambahan devisa hingga US$300 juta atau setara Rp5 triliun.

 

MTEL Akan Merger Dua Anak Usaha untuk Efisiensi Struktur Grup

Berdasarkan prospektus yang dipublikasikan di harian Kontan pada 8 Mei 2026, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk berencana menggabungkan dua anak usahanya, yakni PT Persada Sokka Tama dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi, ke dalam perseroan. Kedua entitas tersebut merupakan anak usaha yang sepenuhnya dimiliki oleh MTEL. Perseroan menjelaskan bahwa langkah merger ini dilakukan untuk menyederhanakan struktur perusahaan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dan mendukung perbaikan kinerja keuangan, tanpa mengubah fokus bisnis inti perusahaan. Proses penggabungan ditargetkan efektif pada 1 Juli 2026, dengan syarat memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPS yang dijadwalkan pada 30 Juni 2026.

 

Untuk mengetahui daftar saham dengan Notasi Khusus dapat dilihat melalui link berikut:

https://www.idx.co.id/id/perusahaan-tercatat/notasi-khusus/

 

Adapun daftar saham yang masuk dalam Papan Akselerasi dan Papan Pemantauan Khusus dapat dilihat melalui link berikut:

https://www.idx.co.id/id/data-pasar/data-saham/daftar-saham/

 

Sumber: Emitennews, Investor Daily, Kontan, Detik Finance,  Bisnis Indonesia. 

PT. Lotus Andalan Sekuritas secara default mengirim Daily View, Hot Topics & Opinion dan Market Rumor melalui email kepada seluruh Nasabah. Apabila Bapak/Ibu ingin menerima email ini kembali, klik Subscribe