Global Update
Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Kamis (6/8), seiring meningkatnya kembali risiko geopolitik di Selat Hormuz dan sikap hati-hati investor menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Dow Jones turun 0,85% ke 53.885,10, S&P 500 melemah 0,18% ke 7.709,96, dan Nasdaq Composite terkoreksi tipis 0,06% ke 26.348,35. Sentimen pasar tertekan setelah Iran mempertimbangkan pembatasan akses bagi kapal AS dan Israel di Selat Hormuz, termasuk potensi denda hingga 20% dari nilai muatan. Kekhawatiran gangguan pasokan mendorong Brent naik 3,83% ke US$82,49 per barel dan WTI menguat 2,75% ke US$77,29 per barel, sekaligus mengangkat US Treasury 10-Year Yield sekitar 5,7 bps menjadi 4,67%. Kenaikan minyak dan yield kembali memperbesar risiko inflasi serta menahan minat terhadap aset berisiko. Dari sisi tenaga kerja, initial jobless claims naik tipis menjadi 199 ribu, tetapi tetap dekat level terendah historis, sementara jumlah PHK korporasi turun 46% yoy dan unit labor cost hanya tumbuh 1,3%, menunjukkan pasar tenaga kerja masih solid tanpa lonjakan tekanan upah yang berlebihan. Fokus utama pasar hari ini tertuju pada Non-Farm Payrolls, tingkat pengangguran, dan pertumbuhan upah AS. Data yang lebih kuat dari perkiraan dapat kembali meningkatkan probabilitas kenaikan Fed Rate, sedangkan pelemahan moderat berpotensi menekan dolar dan yield Treasury.
Market Movement
IHSG terkoreksi terbatas 0,12% ke level 6.343,71 setelah bergerak fluktuatif dalam rentang 6.324ý6.388, mencerminkan aksi profit taking setelah penguatan beberapa hari sebelumnya. Aktivitas perdagangan tetap ramai dengan nilai transaksi Rp18,18 triliun, sementara market breadth cenderung negatif dengan 265 saham menguat, 337 melemah, dan 192 stagnan. Investor asing kembali mencatat net sell Rp273,47 miliar, sehingga kenaikan indeks masih belum sepenuhnya didukung aliran dana asing. Sektor utilitas, industri, dan konsumer primer menjadi penopang, sedangkan kesehatan, teknologi, properti, dan keuangan menekan indeks. Rupiah justru melanjutkan penguatan sebesar 0,08% ke Rp17.910/US$, didukung optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal II sebesar 5,29%, meskipun DXY naik tipis ke 99,75. Yield SBN 10 tahun stabil di 7,27%, menunjukkan pasar obligasi masih menunggu katalis baru. Dari domestik, pasar akan mencermati cadangan devisa Juli, penetapan calon Gubernur BI, serta agenda IPO sejumlah BUMN seperti Pegadaian, Pupuk Indonesia, Pelindo, dan Angkasa Pura yang berpotensi memperdalam pasar modal. Untuk perdagangan hari ini, IHSG berpeluang bergerak konsolidatif dengan bias positif apabila rupiah tetap stabil dan cadangan devisa solid. Namun, kenaikan minyak, net sell asing, serta risiko data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari ekspektasi dapat membatasi ruang penguatan, terutama pada sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan biaya energi.
CORPORATE
Ancora Raih Kontrak Solusi Peledak Tambang Senilai US$60 Juta hingga 2030
Ancora Indonesia Resources melalui anak usahanya, PT Kemitraan MNK BME, memperoleh kontrak penyediaan solusi eksplosif pertambangan dengan nilai total sekitar US$60 juta untuk proyek di Kalimantan. Kontrak tersebut terdiri atas kontrak baru senilai sekitar US$11 juta guna mendukung operasi perusahaan tambang internasional di Kutai Timur, Kalimantan Timur, serta perpanjangan kontrak senilai sekitar US$49 juta dengan kontraktor jasa pertambangan yang mengelola salah satu tambang batu bara terbesar ketiga di Indonesia yang berlokasi di Kalimantan Selatan. Kedua kontrak tersebut memiliki jangka waktu hingga 2029ý2030, sehingga memberikan visibilitas pendapatan jangka panjang bagi perseroan.
FORE Bidik Laba Bersih Tumbuh 70% pada 2026, Ekspansi Gerai Terus Berlanjut
Direktur Fore Kopi Indonesia, Fahmi Rachmatullah, menyampaikan bahwa perseroan menargetkan pertumbuhan laba bersih sebesar 70% YoY pada 2026, didukung target kenaikan pendapatan sebesar 50% YoY. Menurut manajemen, segmen konsumen yang menjadi fokus Fore relatif lebih resilien terhadap pelemahan daya beli di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Hingga 1H26, FORE telah membuka lebih dari 40 gerai baru, dengan lebih dari 40% di antaranya berada di kota tier 2 dan tier 3. Per akhir semester I 2026, jumlah gerai aktif Fore Coffee Indonesia mencapai 363 unit, meningkat dari 259 gerai pada periode yang sama tahun lalu. Jika digabungkan dengan 10 gerai Fore Donut dan empat gerai Fore Coffee di Singapura, total jaringan grup kini mencapai 377 gerai yang tersebar di lebih dari 60 kota.
Margin CMRY Tertekan Akibat Kenaikan Biaya dan Beban Kebakaran Gudang
Manajemen Cisarua Mountain Dairy menjelaskan dalam earnings call pada Senin (3/8) bahwa margin laba kotor turun menjadi 43,5% pada 2Q26 dari 45,3% pada 2Q25. Penurunan tersebut dipicu oleh lonjakan biaya bahan baku dan kemasan sebesar 38% YoY, termasuk dampak pelemahan nilai tukar rupiah, sementara perseroan belum melakukan penyesuaian harga jual selama 1H26. Di sisi lain, margin laba usaha turun lebih signifikan menjadi 18,3% dari 23,3% pada periode yang sama tahun lalu, dipengaruhi oleh pencatatan provisi keusangan persediaan sebesar Rp99 miliar akibat kebakaran gudang yang dibukukan pada pos others, meskipun klaim asuransi telah diajukan. Selain itu, kenaikan beban distribusi sebesar 47% YoY seiring ekspansi ke wilayah luar Jawa dan Bali juga turut menekan profitabilitas.
CBRE Masih Tunggu Persetujuan OJK untuk Melanjutkan Rights Issue
Cakra Buana Resources Energi menyampaikan bahwa proses rights issue masih berada pada tahap pemenuhan sejumlah klarifikasi dan permintaan dari OJK. Perseroan menegaskan tetap berkomitmen menyelesaikan seluruh tahapan aksi korporasi tersebut sesuai ketentuan yang berlaku sebagai bagian dari upaya memperkuat struktur permodalan dan mendukung rencana pengembangan usaha. Manajemen menambahkan bahwa jadwal pelaksanaan rights issue akan diumumkan setelah seluruh permintaan regulator telah dipenuhi dan terdapat perkembangan lebih lanjut dari proses persetujuan.
IMBS Perpanjang Tender Sukarela KETR, Harga Tetap Rp523 Per Saham
Aksi korporasi terbaru PT Inti Mas Bangun Sejahtera (IMBS). Perseroan memperpanjang periode kedua Penawaran Tender Sukarela untuk membeli saham PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) yang dimiliki publik. Manajemen IMBS dalam keterangannya yang dikutip Kamis (6/8/2026), menyebutkan dalam aksi korporasi tersebut, perseroan tetap menawarkan harga Rp523 per saham sebagaimana telah diumumkan sebelumnya. Penting diketahui, berdasarkan pengumuman perseroan, periode kedua Penawaran Tender Sukarela akan berlangsung mulai 8 Agustus hingga 26 Agustus 2026. Penawaran dibuka setiap hari kerja mulai pukul 09.00 WIB hingga 15.30 WIB. Bagi pemegang saham yang berminat mengikuti tender sukarela wajib melengkapi dan menyampaikan seluruh dokumen yang dipersyaratkan melalui perusahaan sekuritas atau bank kustodian masing-masing paling lambat pada 26 Agustus 2026 pukul 15.30 WIB.
Untuk mengetahui daftar saham dengan Notasi Khusus dapat dilihat melalui link berikut:
https://www.idx.co.id/id/perusahaan-tercatat/notasi-khusus/
Adapun daftar saham yang masuk dalam Papan Akselerasi dan Papan Pemantauan Khusus dapat dilihat melalui link berikut:
https://www.idx.co.id/id/data-pasar/data-saham/daftar-saham/
Sumber: Emitennews, Investor Daily, Kontan, Detik Finance, Bisnis Indonesia.